pejuang vs pecundang
Sebuah kata pengantar yang menarik untuk sebuah minimagz pinjeman dari teman.
Ribuan kali bumi mengelilingi matahari. Puluhan ribu kali bulan mengitari bumi.
Dalam masa itu, terlahir orang-orang yang berkali-kali mengubah wajah dunia.
Dalam masa itu pula, lahir orang-orang yang tak pernah berbuat apapun hingga saat mereka dikubur di perut bumi.
Banyak.
Jumlah mereka banyak.
Bahkan terlalu banyak.
Namun sejarah tak pernah menitikkan setetes tinta pun untuk menuliskan apa yang mereka lakukan.
Sepertinya keberadaan mereka sama dengan tidak adanya.
Ada namun tak ada artinya.
Bumi akan menjadi saksi atas apapun yang kalian lakukan.
Ada pejuang, ada pecundang.
Pilihan ada di tangan kalian.
Naif sekali bila ku sebut diriku sebagai pejuang tapi mengakui diri sebagai pecundang juga “menyakitkan”(hee…).
Tak ada artinya??? Ups… terlalu kejam atau memang selama ini aku merasa bahwa diriku berguna tapi berguna yang tak ada artinya alias kontribusinya nol besar. Apa benar aku tak pernah memberikan kontribusi apa-apa?
Hee… kata pengantar yang cukup cerdas. Aku pikir, semua tergantung pada siapa yang melihat kontribusiku, diriku kah? orangtuaku kah? temanku kah? masyarakat kah? atau manusia dunia kah? Mungkin aku telah dianggap pejuang oleh diriku sendiri dan orangtuaku tapi dengan jujur aku mengakui bahwa aku masih menyandang predikat pecundang bagi teman, masyarakat dan manusia dunia coz gak pernah ada kontribusi berarti yang ku berikan pada mereka. Apa yang kulakukan selama ini hanya sebatas zona nyaman untuk diriku sendiri saja. How about u?
Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Dan perjuangan adalah melaksanakan kata-kata.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar